Tuesday, August 23, 2016

dalil tentang dzikir khafi

Dalil tentang dzikir khafi


Dzikir khafi merupakan salah satu amalan selain dzikir Laa Ilaaha illallah. Dzikir khafi dikenal juga dengan nama dzikir ismu dzat dimana qolbu kita dilatih agar terus berdzikir dimanapun dan tidak lupa sedetikpun.

Di bawah ini merupakan Dalil Tentang Dzikir Khafi :

  1. "Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berhubungan dengan manusia melalui qalbunya".(QS. 8:24)
  2. "Orang - orang kafir berkata : "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (Mukzizat) dari Tuhannya ? Katakan, sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang - orang yang bertaubat kepada-Nya (yaitu) Orang - orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram (tenang) dengan dzikrullah (mengingat allah), ingatlah hanya dengan dzikrullah (mengingat Allah) hati menjadi tenteram." (Q.S. Ar-Ra'd ayat 27-28)
  3. Rasullah SAW bersabda yang artinya :

    "Wahai hambaku, inginkah aku ajarkan beberapa kalimat yang allah akan memberikan manfaat karenanya kepadamu, sahabat menjawab ya ingin wahai Rasulllah SAW. Jagalah Allah(dengan mengingatnya) maka Allah akan menjagamu (dengan rahmat-NYA), Jagalah Allah(dengan mengingatnya) maka Allah akan membimbingmu" (HR. Ibnu Abbas r.a) (Kitab Thoharoh al-Qulub halaman 122)
  4. Mushonif ibnu Abi Syaibah meriwatkan sabda Rasullah Saw :

    Tidak ada seorang pun dari anak adam, melainkan pada qalbunya ada dua rumah. Di dalam satu dari keduanya dihuni malaikat, sedang yang lainnya dihuni syetan. Maka apabila ia berdzikir kepada Allah SWT, syetan akan menyelinap pergi, dan apabila ia tidak melakukan dzikir, maka syetan meletakkan moncong mulutnya di dalam qalbu manusia kemudian membisikan pengaruhnya.
  5. Ibnu Abbas r.a, mengungkapkan :

    Syetan itu mendekam di qalbu Bani Adam (manusia), maka jika ia (manusia) lupa dan lalai (dari dzikir kepada Allah SWT), syetan itu membisik-bisikan pengaruh buruknya, tetapi jika manusia berdzikir, maka syetan pun pergi tergesa-gesa.
  6. " Tidak ada sesuatu amal pun yang dapat menyelamatkan seseorang kecuali dengan banyak melakukan dzikir kepada Allah Azza Wajalla". (H.R Thabrani dari Mu'ad dan Abi Syaibah"
  7. Ciri cinta kepada Allah senang cinta Dzikrullah, Ciri benci kepada allah benci dzikir kepada-Nya" (HR. Baihaqi dari Anas)


Baca Juga
- Artikel tentang dzikir

Dalil tentang dzikir Laa illaaha illallah

Dalil tentang dzikir Laa illaaha illallah

Dzikir Laa illaaha illallah merupakan dzikir utama yang diamalkan oleh para Nabi, para Sahabat, para Wali Allah dan orang-orang sholeh. Dzikir Laa illaaha illallah merupakan kunci untuk masuk surga.

Dibawah ini merupakan Dalil tentang dzikir Laa Ilaaha illallah.

  1. Sesungguhnya bergemuruhnya suara orang berdzikir saat usai shalat fardhu betul-betul terjadi di masa Rasulullah s.a.w. Aku dapat mengetahui orang sudah usai shalat (berjamaah di masjid Nabi) ketika kudengar suara dzikir itu. (H.S. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)
  2. Rasulullah SAW bersabda :

    Perbaharuilah selalu imanmu”. Dikatakan: “Bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Rasul: “Dengan memperbanyak ucapan Lâ-ilâha-illallâh” (HR. Ahmad)
  3. Nabi Muhammad SAW bersabda :

    "Mestinya kamu memohon perlindungan dengan Laa ilaaha illalloh dan istigfar, perbanyaklah mengamalkannya, karena iblis menyatakan. Aku hancurkan manusia dengan melakukan dosa-dosa, dan manusia menghancurkanku dengan mengucapkan kalimat laa ilaha illalloh dan istigfar (HR. Abi Ya'la dari Abu bakar Siddiq ra)
  4. Rasullah SAW pernah bersabda :

    Barang siapa dari kalian yang merasa lemah di waktu malam untuk melakukan shalat malam,merasa bakhil untuk menginfakkan harta dan pengecut (merasa takut) untuk berjihad melawan musuh, maka perbanyaklah dzikir kepada Allah (H.R. Ath-Thabrani r.a)
  5. Rasullah SAW pun pernah bersabda :

    Sesungguhnya segala sesuatu itu ada alat pembersihnya, dan untuk membersihkan hati adalah dengan melakukan dzikrullah (H.R al-Baihaqi r.a)
  6. "Tidaklah suatu kaum sambil berdzikir kepada Allah,

    kecuali para malaikat akan mengerumuni mereka, dan mereka akan dinaungi oleh rahmat Allah SWT, dan akan diturunkan kepada mereka ketenangan jiwa, dan Allah SWT membangga-banggakan mereka didepan majlisnya" (H.R Ahmad, Muslim, Timidzi, Ibnu Majjah, dan Baihaqi r.a)
  7. Barang siapa yang banyak melakukan Dzikir kepadaKu dari pada banyak meminta, maka Aku akan memberikan yang paling baik kepadanya yang tidak aku berikan kepada setiap orang yang banyak meminta sedikit berdzikir."(H.R Baihaqi dari Umar Bin Khattab)
  8. Dari hasan Bashry :

    Nabi SAW ditanya : Ya Rasul amal apakah yang paling utama ? Jawabnya ? Jika engkau meninggal bibirmu basah dengan dzikrullah 
  9. Nabi Muhammad SAW bersabda :

    Ada 3 Amalan yang paling berat timbangannya, yaitu :

    1. Menginsafi diri sendiri
    2. Membantu saudaranya dengan harta
    3. Dzikrullah
  10. Nabi Muhammad SAW bersabda :

    Ingatlah, aku akan memberitahu kepada, amal yang paling baik dan mulia di sisi Tuhanmu,yang dapat mengangkat derajat tertinggi, dan bagimu lebih baik daripada bersedekah mas-perak, dan lebih baik daripada mati syahid membela agama Allah, yaitu Dzikrullah (mengingat allah)
  11. Nabi Muhammad SAW bersabda :

    "Yang paling utama dari apa yang telah aku ucapkan dan yang telah diucapkan olehNabi-nabi sebelum aku ialah kalimat Laa ilaaha illalloh."

Sampai Dimana Tahap Shalat Kita?

Sampai Dimana Tahap Shalat Kita?


Mengapa sampai saat ini kita merasa bahwa ibadah shalat kita tak banyak memberi dampak positif terhadap kondisi sosial bangsa kita? Barangkali, karena setiap kita masih dalam tahap-tahap awal dalam upaya mendirikan shalat.

Mari kita nilai kualitas shalat kita, nanti akan terjawab kenapa kita seringkali tidak mendapat pertolongan Allah. Hal ini juga dapat menjelaskan secara keseluruhan, mengapa saat ini umat Islam tidak lagi menjadi umat yang agung seperti dulu.


  1. Golongan Pertama

    Kita bisa lihat hari ini sudah banyak umat Islam yang tidak shalat, bahkan banyak juga yang tidak tahu cara shalat yang benar; mereka telah jatuh kafir. Imam Malik berkata bahwa jatuh kafir kalau tidak shalat tanpa sebab. Imam Syafi'i berkata jatuh fasik - (pun masuk neraka juga) kalau ia masih yakin sembahyang itu fardu.
  2. Golongan Kedua

    Orang yang mengerjakan shalat secara lahiriah saja, bacaan pun masih tak betul, taklid buta, main ikut-ikut orang saja tanpa percaharian yang sungguh-sungguh. Belajar shalat seadanya. Ilmu tentang shalat tidak dianggap penting. Golongan ini tertolak bahkan berdosa besar dan hidup dalam kondisi durhaka kepada Allah Taala.
  3. Golongan Ketiga

    Orang yang mengerjakan shalat, bahkan tahu ilmu tentang shalat, tetapi tak mampu melawan nafsu terhadap godaan dunia yang kuat. Jadi mereka ini kadang shalat, kadang tidak. Kalau ada waktu dan mood baik; ia shalat, kalau sibuk bekerja atau menjamu tamu, ada hajatan, pesta ria, berziarah, bepergian, letih dan penat, maka ia tak shalat Orang ini jatuh fasik.
  4. Golongan Keempat

    Orang yang shalat, kalaupun ilmunya tepat, fasih bacaannya, tapi tak khusyuk kalau diperiksa satu persatu bacaannya, lafaznya banyak yang tak dia mengerti, pikirannya tak terpusat atau tak berfokus sepenuhnya pada shalat yang dilaksanakannya karena tak mengerti apa yang dia baca. Cuma main hafal saja. Jadi pikirannya terus terfokus pada dunia dan alam sekelilingnya. Pikirannya mengembara dalam shalat, orang ini lalai dalam shalat. Neraka Wail bagi orang jenis ini.
  5. Golongan Kelima

    Orang yang shalat cukup lima waktu, tepat ilmunya, memahami setiap bacaan shalat, fatihahnya, doa iftitahnya, tahiyyatnya, tapi tak dihayati maksud dalam shalat itu. Pikirannya masih melayang mengingatkan hal dunia, karena faham saja tetapi tidak dihayati. Golongan ini dikategorikan sebagai shalat awamul muslimin.
  6. Golongan Keenam

    Golongan ini lebih baik sedikit dari golongan yang ke lima tadi, tapi main tarik tali di dalam shalatnya, sesekali khusyuk, sesekali lalai. Bila teringat sesuatu di dalam shalatnya, teruslah terbawa, berkhayal dan seterusnya. Bila teringat Allah secara tiba-tiba, maka insaf dan sadarlah kembali, mencoba dibawa hatinya serta pikirannya untuk menghayati setiap kalimat dan bacaan di dalam shalatnya. Begitulah sampai selesai shalatnya. Ia merintih dan tak ingin jadi begitu, tapi terjadi juga. Golongan ini adalah golongan yang lemah jiwa. Nafsunya bertahap mulhamah (artinya menyesal akan kelalaiannya dan mencoba perbaiki kembali, tapi masih tak sanggup karena tidak ada kekuatan jiwa). Golongan ini terserah kepada Allah. Yang sadar dan khusyuk itu mudah-mudahan diterima oleh Allah, mana yang lalai itu moga-moga Allah ampunkan dosanya, namun tidak ada pahala nilai sembahyang itu. Artinya shalatnya tidak berdampak apa-apa. Allah belum lagi cinta akan orang jenis ini.
  7. Golongan Ketujuh

    Orang yang mengerjakan shalat tepat ilmunya, memahami secara langsung bacaan dan setiap lafaz di dalam shalatnya. Hati dan pikirannya tidak terbawa dengan keadaan sekelilingnya sehingga pekerjaan atau apa pun yang dilakukan atau yang dianggap diluar sembahyang itu tidak mempengaruhi shalatnya. Meskipun ia memiliki harta dunia, menjalankan kewajiban dan tugas keduniaan seperti bisnis dan sebagainya namun tidak mempengaruhi shalatnya. Hatinya masih dapat memuja Allah di dalam shalatnya. Golongan ini disebut orang-orang saleh atau golongan abrar ataupun ashabul yamin.
  8. Golongan Kedelapan

    Golongan ini seperti juga kaum tujuh tetapi ia memiliki kelebihan sedikit yaitu bukan saja mengerti, dan tak tergoda dunia di dalam shalatnya, malahan dia dapat menghayati setiap makna bacaan shalatnya itu, pada setiap kalimat bacaan fatihahnya, doa iftitahnya, tahiyyatnya, tasbihnya pada setiap sujudnya dan setiap gerak geriknya dirasakan dan dihayati sepenuhnya. Tak teringat langsung dengan dunia walaupun sedikit. Tapi namun ia masih tersadar dengan alam sekelilingnya. Pemujaan terhadap Allah dapat dirasakan pada gerak dalam shalatnya. Inilah golongan yang dinamakan kaum Mukkarrabin (yang hampir dekat dengan Allah).
  9. Golongan Kesembilan

    Golongan ini adalah golongan yang tertinggi dari seluruh golongan tadi. Yaitu bukan saja ibadah shalat itu dijiwai di dalam shalat malahan ia dapat mempengaruhi di luar shalat. Kalau ia bermasalah langsung ia shalat, karena ia yakin shalat menjadi pemecah segala masalah.. Shalat telah menjadi pendingin hatinya. Ini dapat dibuktikan di dalam sejarah, seperti shalat Ali ketika panah terpacak dibetisnya. Untuk mencabutnya, ia lakukan shalat dulu, maka di dalam shalat itulah panah itu dicabut. Mereka telah yakin dengan shalatnya.. Makin banyak shalat semakin terasa lezat, dengan shalatlah cara ia lepaskan kerinduan dengan Tuhannya. Dalam shalatlah ia mengadu kepada Tuhannya. Alam sekelilingnya langsung tidak ia hiraukan. Apa yang terjadi disekelilingnya langsung tak dipedulikannya. Hatinya hanya pada Tuhannya. Golongan inilah yang disebut golongan Siddiqin. Golongan yang benar dan haq.


Setelah kita nilai keseluruhan sembilan tingkat shalat tadi, maka dapatlah kita nilai shalat kita di tingkat yang mana. Maka ibadah shalat yang dapat mengembangkan jiwa, mengembangkan iman, menjauhkan dari yang buruk, dapat mencegah mazmumah (sifat tercela yang dapat membinasakan kita), menanamkan mahmudah (akhlak yang diridhoi Allah) yang melahirkan disiplin hidup, melahirkan akhlak yang agung adalah golongan tujuh, delapan dan sembilan saja. Shalat yang berkualitas, sedangkan golongan yang lain jatuh pada kufur, fasik dan zalim.

Jadi dimanakah tahap shalat kita? Perbaikilah diri kita mulai dari sekarang. Jangan tangguhkan lagi. Pertama-tama pertanyaan yang akan ditujukan kepada kita di akhirat nanti adalah shalat atau shalat kita.

Baca Juga
- Artikel Agama Islam